Kini masyarakat sudah tidak asing lagi dengan keberadaan fintech. Namun, masih banyak yang samar-samar mengenali apa itu fintech. Secara harfiah fintech adalah salah satu jenis perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa keuangan, serta semua operasional perusahaan dan pengguna produknya memanfaatkan teknologi.

National Digital Research Centre (NDRC) mengartikan fintech sebagai suatu istilah dari inovasi bidang jasa keuangan. Dimana inovasi finansial ini kental dengan sentuhan teknologi modern. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi telah merubah, mempercepat dan mempertajam aspek pelayanan fintech terutama saat melakukan investasi terbaik. Ringkasnya, operasional fintech dimulai dari metode pembayaran, transfer dana, peminjaman, pembayaran cicilan, dan pengelolaan aset menjadi lebih cepat karena menggunakan teknologi.

Awal Mula Fintech di Dunia

Berawal dari evolusi perangkat komunikasi dan transportasi yang terjadi pada tahun 1886. Kala itu dikembangkan kabel trans atlantik yang membuka jalan sistem transfer dana elektronik pertama kali menggunakan kode morse dan telegraf.

Namun, munculnya kartu kredit pertama di dunia tahun 1950-an. Penggunaan kartu kredit diharapkan dapat menciptakan budaya pembayaran cashless atau non-tunai. Barulah memasuki tahun 1967, dunia keuangan bertransformasi dari sistem analog ke digital. Hal tersebut ditandai dengan pemasangan ATM pertama oleh Bank Barclays di tahun 1967.

Selanjutnya pada tahun 1980-an, mulai berkembang sistem perbankan online tetapi belum menarik cukup perhatian masyarakat dan pemerintah dunia. Setelah dunia internet mulai berkembang pesat pada era 1990-an, mulai bermunculan pemain e-commerce. Sedangkan perusahaan peer to peer lending pertama baru hadir pada tahun 2005 yakni Zopa, Inggris. Kini financial technology menjadi bagian dari ekosistem digital yang tidak dapat dipisahkan.

Peran Fintech dalam Mengedukasi Finansial Masyarakat

Fintech di Indonesia semakin menjamur dari tahun ke tahun. Hingga Januari 2019, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat setidaknya ada 99 fintech Peer to Peer (P2P) Lending yang terdaftar dan berizin, yang mampu menyalurkan pinjaman sampai Rp 25,92 triliun — meningkat 14,36 persen (year-over-year).

Tidak hanya P2P Lending, di Indonesia juga terdapat berbagia jenis fintech yang menawarkan beragam jasa keuangan dengan tujuan mempermudah hidup para penggunanya, sambil menjalankan bisnis untuk mendapatkan keuntungan.

Maraknya fintech di Indonesia sontak membuat masyarakat ‘kaget’ dan perlahan mulai menggunakan teknologi ini. Bukan tanpa alasan, selayaknya kemajuan teknologi lainnya, fintech menawarkan kemudahan baik dari segi akses, pendaftaran, hingga penggunaan.

Fintech memang menjadi bisnis yang cukup menjanjikan. Tapi di balik itu semua, fintech juga memiliki tanggung jawab sosial untuk mengedukasi masyarakat mengenai pengetahuan finansial. Mengapa?

Memasuki era serba teknologi masyarakat diajak untuk beradaptasi dengan kemajuan yang ada, termasuk dalam hal finansial. Edukasi finansial sangat penting agar masyarakat dapat memahami dan menggunakan berbagai produk yang ditawarkan oleh fintech.

Dari data yang didapatkan oleh OJK, baru 31 persen penduduk Indonesia yang melek akan hal keuangan. Melihat kenyataan tersebut, lewat edukasi yang diberikan para pelaku fintech, masyarakat akan mengetahui untung-rugi sebuah produk fintech, sehingga bisa menggunakannya dengan bijak dan bertanggung jawab.

Oleh karena itu, fintech memiliki peran yang cukup besar untuk membuat edukasi finansial di Indonesia semakin baik, agar kesadaran masyarakat akan produk yang digunakannya juga semakin tinggi.

Fintech investasi terbaik untuk masa depan yang baik tidak hanya mencari untung, tetapi juga yang memberi manfaat bagi masyarakat. Pilih produk fintech yang benar-benar membantu Anda memahami produk finansial yang tepat untuk Anda.

Post a Comment

Previous Post Next Post